Sunday, 26 July 2015

Serial TV RCTI - PREMAN PENSIUN

Preman tanpa bahasa preman
Pesan dan pendidikan besar dari orang-orang kecil



Bisa menonton acara-acara TV Indonesia dari Auckland, New Zealand, adalah hal luar biasa.  Siaran-siaran televisi tersebut biasanya kami nikmati melalui saluran parabola. Jarak waktu yang berbeda 5 sampai 6 jam, mengakibatkan kami lebih sering mengikuti acara-acara tauziah yang ditayangkan saat shubuh. Namun sesekali kami juga mengikuti berita Indonesia, walaupun saya seringkali akhirnya lebih memilih membaca online agar bisa memilah-milah berita yang ingin saya baca saja.

Begitu lama rasanya saya tak lagi bisa menikmati serial televisi bermutu sejenis Jendela Rumah Kita, Keluarga Cemara dan Si Doel Anak Sekolahan yang bisa ditonton dengan nyaman seperti kehidupan sehari-hari. Film serial TV yang menyajikan Indonesia secara wajar dan bisa menjadi ajang tanya jawab saat menontonnya menjadi barang langka, karena anak-anak yang tidak selalu mengerti dunia yang tak pernah dijamahnya bisa belajar banyak hal tentang kehidupan orang lain dengan cara yang menarik, yaitu melalui televisi.

Namun entah kenapa, tiba-tiba saya terpana dengan serial TV Preman Pensiun 2 yang disajikan RCTI yang ditayangkan sore hari di Jakarta, di Auckland jam 10 malam. Serial ini  bahkan bisa dinikmati dalam tayangan ulang di pagi hari jika ada episode yang tertinggal. Sebagai drama komedi, banyak hal yang bisa disajikan tanpa beban, penuh humor tapi tetap terasa kepedihan, kesengsaraan dan keseriusan tentang kebrutalan didalamnya. Boleh jadi film ini sejujurnya memilukan hati, namun yang membuat nyaman adalah bahwa kita bisa diberikan sajian tontonan segala umur agar bisa mempelajari sesuatu didalamnya tanpa harus kehilangan sifat mendidik, sekaligus menerima pesan yang disajikan dalam cerita.

Awal mulanya saya melihat secara tak sengaja saat suami saya mencari acara tauziah pagi di awal ramadhan. Mendengar musik pembukanya yang memakai angklung telah memberi nuansa lain dan sepintas terlihat kostum para pemain yang terkesan "biasa", memperlihatkan kehidupan umum yang "biasa" telah membuat saya berhenti sejenak untuk menonton nya lalu menyimak dialog-dialog yang berjalan wajar saat marah, dongkol ataupun becanda. Saya yang biasanya hanya bisa menonton sinetron tak lebih dari 5 menit, lalu langsung pindah saluran, saat itu bisa tak beranjak dari saluran RCTI  dan akhirnya duduklah saya menonton dan terus mengikuti episode demi episode yang tersaji dalam beberapa hari sebelum tauziah. Kali ini saya heran bahwa saya merasa nyaman dan sama sekali tidak terganggu dengan gaya bicara dan bahasa yang disajikan. Seringkali tersenyum-senyum dan begitu menikmati aliran cerita. Sampai akhirnya saya menjadi penonton setia dan berlanjut sampai tamat. Beruntungnya punya kantor di rumah, karena saya bisa menentukan kapan mau kerja dan kapan mau menikmati waktu santai.

Saya memulai dari Preman Pensiun 2, dan baru mencari tahu tentang isi  bagian yang pertama setelahnya karena penasaran dengan kang Bahar, sang pemeran utama yang diperankan Didi Petet dan sayangnya tak bisa bermain sampai akhir karena meninggal dunia di tengah pembuatan sinetron bagian ke 2 ini. Dari judulnya saja saya pikir arahnya adalah  perubahan karakter dan sejak awal saya benar-benar berharap tidak akan menyaksikan skenario yang lebay dalam merubah diri para preman ini. Namun menyaksikan setiap episodenya memang membuat saya angkat topi pada sang pembuat cerita, karena begitu  banyak hal yang menarik dalam serial ini. Skenario cerita dan sutradara yang  begitu piawai dalam menata bahasa dalam dialog dan perilaku para pemain telah menjadi kunci sukses. Mari kita bahas, apa yang telah saya temukan didalamnya.

1. Preman Bandung. 

Orang Sunda seringkali diibaratkan terlalu sopan sebagai preman, sehingga lokasi setting film seri di Bandung, Jawa Barat adalah pilihan sangat cerdas, bahkan menjadi pantas dan syah-syah saja jika tak ditemukan kata-kata kasar yang terlontar diantara mereka, walaupun dalam kemarahan sekalipun. Bayangkan saja jika film ini dibuat di Surabaya atau Medan misalnya. Tak bisa dibayangkan bagaimana mengatur bahasa yang nyaman untuk ditonton segala usia seperti ini. Di Jawa Timur, seperti Surabaya misalnya, obrolan akrab terbiasa dengan kata "pisuhan" yang tidak lagi bisa dianggap kasar karena memang itulah keakraban yang biasa ditampilkan diantara teman. 

Perkataan-perkataan yang tidak mendidik ini, walaupun bisa menjadi suatu gambaran keakraban orang Jawa Timur atau daerah lain barangkali bahasa "akrab" ini bisa mengganggu dan sejujurnya ini jika mengukurnya dari kebiasaan ibu saya sendiri dan sebagian besar teman-teman ibu yang berasal dari Jogjakarta, Jawa Tengah atau Jawa Barat. Ibu  yang sudah tinggal puluhan tahun di Surabaya karena  menikah dengan bapak yang asli Jawa Timur dan melahirkan saya dan adik-adik di Surabaya, sepertinya bahasa gaul bapak saya dengan teman-temannya kadangkala masih mengganggu di telinga ibu. Kami anak-anaknya  juga tak pernah diperbolehkan untuk terbiasa dengan kata-kata tersebut. Hal yang sama juga saya temukan di beberapa keluarga yang berasal dari Jawa Barat, namun sudah bertahun-tahun tinggal di Surabaya. 

Ini hanya sebagian tolak ukur saja, bahwa bahasa sehari-hari yang dipakai dalam Preman Pensiun 2 telah berhasil memghindari bahasa preman yang kasar tanpa harus kehilangan gaya  bahasanya untuk menampilkan keculasan, kekasaran, kemarahan dan kata-kata jahat. Artinya, bahasa telah diolah secara serius dalam penulisan skenario. Sungguh cerdas! 

2.  Ibu adalah orang yang terhormat

Sebagai seorang preman, secara alamiah digambarkan bagaimana Muslihat berhubungan dengan ibu mertuanya. Dari cara bicara sampai perilaku untuk menyenangkannya.  Saat mertuanya minta dibelikan mukena bordir tasik, si Mus berusaha mencari sesuai amanah. Sekalipun toko-toko yang didatangi mengatakan memiliki mukena bordir, tapi Mus tetap dengan sabar mencari kemana-mana sampai dapat bordir Tasik.

Suatu ketika Mus membentak-bentak istrinya, karena banyak hal dalam pikirannya. Si Emak mertua yang tidak pernah akur dengan anaknya sendiri, saat itu Emak mengingatkan dengan bersungut-sungut, mengomel ala ibu-ibu, karena tidak terima anak perempuannya diperlakukan demikian. Diingatkannya si Muslihat bagaimana saat dulu mendekati Emak untuk bisa mendapatkan anak perempuannya. Maka Muslihat pun terpekur dan mencari cara untuk meminta maaf pada istrinya. 

Untuk seorang preman, gaya penghormatan pada seorang ibu tidaklah berlebihan dan tetap pada porsinya. Rasa kesal dan jengkelnya Muslihat saat terganggu emak yang minta dibelikan es krim mendadak, ingin jajan tanpa mau menunggu waktu, atau saat membelikan Esih sepatu yang kekecilan dan langsung diambil oleh Emak membuat saya amat terhibur. Apalagi melihat muka Muslihat dan Esih yang seringkali ingin marah, tapi tak bisa, sungguh membuat saya makin menyukai mereka.

3. Pesan Moral

Di salah satu episode ada percakapan dimana anak buah Muslihat bicara bahwa dia perlu meminta uang lebih pada para pedagang untuk uang kolak dan gorengan sebagai tambahan berbuka puasa. Muslihat yang melihat dan mendengarnya, langsung menegur dan mengingatkan bahwa itu artinya meminta yang bukan hak nya. Dia sebutkan perjanjian menagih upeti keamanan yang didalamnya tidak termasuk uang kolak dan gorengan. mengatakan kalau dia membutuhkan uang ekstra, maka Muslihat mengatakan bahwa kalau tak punya uang untuk beli makanan buka puasa, lebih baik buka pakai air saja. 

Saya pun sebagai penonton, tak urung tersenyum kecil mendengarnya, berharap para petinggi dan pejabat negeri Nusantara lebih punya empati pada para pekerja yang mencari nafkah dengan jujur daripada Muslihat sang bos Preman. Setelah membayar pajak dan pajaknya untuk menggaji mereka, diharapkan tidak menjadi kaum "opportunist". Pas banget !

Dialog Saep, sang bos copet menggambarkan dirinya sendiri pada anak buahnya sebagai berikut, "Orang sholat taraweh saya malah nonton Korea, orang tadarusan saya masih nonton korea, sampai subuh masih nonton Korea.... kacau yah saya", katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Pesan moral yang begitu sederhana bahwa dia bukan orang  bermuka dua sangat jelas disini. Sebagai seorang pencopet secara komedi sarkastis dia memproklamirkan diri bahwa dia bukanlah golongan yang melakukan ibadah yang dianggap menampilkan sifat baik, padahal mencari rejeki yang tidak baik. Menurut istilahnya, dia adalah seorang "copet sejati" dan "anti main stream". Sungguh nyaman bisa menikmati keterus terangan dan cara bicara Saep yang apa adanya ini. 

Banyak lagi pesan-pesan baik dan pengakuan buruk yang jelas, namun bisa mengalir indah. Inilah serial televisi yang bisa disebut sebagai karya yang digarap serius untuk membuat tontonan menjadi tuntunan bagi pemirsa televisi.

Profil Aris Nugraha

Rating tontonan yang menempati posisi tinggi di RCTI ini, tak lepas dari pengaruh Aris Nugraha sebagai penulis skenario dan sutradara. Pria asli Sunda dan berasal dari Garut ini memang memiliki keunikan tersendiri, dan keahliannya dalam sinetron komedi bisa dibilang tak biasa. Sebagai orang yang produktif di bidangnya, bakatnya telah teruji dan ini terbukti dari beberapa film-filmnya yang masuk nominasi di ajang festival.

Film lain dari Aris yang saya sukai adalah 'Bajaj Bajuri'. Sinetron ini  pernah masuk nominasi Festival Film Bandung pada tahun 2003. Sampai sekarang masih ada beberapa adegan menggelikan yang tersimpan dalam ingatan saya. Selain itu, karyanya yang lain yang pernah masuk nominasi adalah 'Radio Repot '(2005). Hasil karyanya yang selalu penuh makna dan pesan, tak pernah terlihat menggurui penonton maupun membawa beban berat untuk berpikir. Namun pengaruh dan pesannya sungguh mengena dan menggelitik naluri ke egoisan kita untuk berkaca pada perilaku sehari-hari yang perlu dibenahi. 

Pada episode-episode akhir Preman Pensiun 2, terlihat mulai berperannya si cantik Kinanti, anak kang Bahar (Didi Petet) dalam mengatasai masalah. Sadar atau tidak ini telah membuat percakapan menarik di rumah kami saat saya terlewat menontonnya. 
Ya...., pensiun menjadi preman, seperti cita-cita kang Bahar di Preman Pensiun 1 memang bukan pilihan yang mudah di dunia nyata maupun di film. Di Preman Pensiun 2 terlihat mulai bergejolaknya persiapan perang para Preman lain untuk merebut lahan yang akan ditinggalkan oleh kelompok kang Bahar sudah mulai terlihat gaungnya. Karena, bisa dibayangkan, siapapun yang akan  berpindah profesi selalu ada orang lain yang menunggu untuk mengisi dan menggantikan posisi itu, terutama jika lahan yang ditinggalkan. Dialog-dialog lucu, namun memilukan banyak terjadi, dikarenakan kegamangan mereka mencari dan menapaki pekerjaan baru.  

Kini saya sedang menunggu peran Kinanti dan Muslihat berikutnya di Preman Pensiun 3. Apakah Aris Nugraha bisa mengolah peran Kinanti menjadi pemain cantik yang cerdas? Berhasil kah Muslihat pensiun dan membawa anak buahnya berpindah profesi? Apakah persiapan perang para preman berebut lahan akan seperti perang Baratayuda yang pelan, terstruktur dan sangat siap namun akan berakhir sangat pahit? Atau malah nantinya ada kejutan lain yang membuat saya ingin menulis lagi? 

Yang jelas, menjadi baik di dunia nyata itu memang tak semudah membalik telapak tangan. Namun mengolahnya dalam dialog film berseri agar tampak wajar dan alamiah, itu lebih susah lagi. Saya jadi tak sabar menunggu yang berikutnya. 

2 comments:

  1. Tv and Titanium Drill Bits - Titanium Arts
    Tv ford ecosport titanium and Titanium Drill Bits - Titanium Arts. We buy them all. You can find babyliss titanium flat iron the cheapest titanium (iv) oxide prices on titanium helix earrings the market with the largest selection at blue titanium cerakote Tv and

    ReplyDelete